Karya Tulis Ilmiah : Pengertian, Tujuan, Manfaat, Jenis, dan Penulisan

Dalam dunia akademis, karya tulis ilmiah menjadi sesuatu yang wajib  ada. Karya tulis ilmiah dalam dunia akademis merupakan sarana untuk mengukur tingkat keilmiahan karya tulis para insan akademisi. Dengan adanya prosedur keilmiahan, dapat diketahui kemampuan dan kecakapan para akademisi di perguruan tinggi. Dalam dunia akademis karya tulis ilmiah merupakan salah satu bentuk tanggungjawab intelektual di perguruan tinggi. Dalam karya tulis ilmiah terdapat syarat-syarat keilmiahan sehingga sebuah karya tulis dapat dipertanggungjawabkan secara intelektual.

karya tulis ilmiah

A. Karya Tulis Ilmiah

Karya tulis ilmiah adalah tulisan yang didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, penelitian dalam bidang ilmu tertentu yang ditulis secara sistematis ke dalam bahasa yang benar.  Karya tulis yang tidak mengandung penelitian dalam bidan gilmu tertentu tidak dapat  dikategorikan sebagai karya tulis ilmiah. Sebaliknya, tulisan yang berangkat dari penelitian yang mendalam bidang ilmu teretentu tidak dapat dikategorikan sebagai karya tulis ilmiah. Sebaliknya, tulisan yang berangkat dari penelitian yang mendalam dalam bidang ilmu tertentu tetapi tidak  ditulis secara sistematis, tentu bukan sebuah karya tulis ilmiah. Dengan demikian, karya tulis ilmuah harus memenuhi syarat adanya; (1) hasil kajian dalam bidang ilmu pengetahuan, (2) disusun secara sistematis, (3) menggunakan bahasa yang benar, (4) disampaikan dalam bentuk tulisan.

Sementara itu, karya tulis ilmiah dapat diidentifikasi melalui ciri-ciri yang melekat di dalamnya. Ciri-ciri karya tulis ilmiah adalah (1) mengandung koherensi yang artinya seluruh tulisan merupakan uraian yang diikat oleh gagasan utama; (2) didukung fakta artinya tulisan bukan hasil khayalan melainkan berdasarkan fakta; (3) sistematis berati sebuah tulisan disusun secara sistematis, (3) menggunakan bahasa yang benar, (4) disampaikan dalam bentuk tulisan.

Sementara itu, karya tulis ilmiah dapat teridentifikasi melalui ciri ciri yang melekat di dalamnya. Ciri ciri karya tulis ilmiah adalah (1) mengandung koherensi yang artinya seluruh tulisan merupakan uraian yang diikat oleh gagasan utama; (2) didukung fakta artinya tulisan bukan hasil khayalan melainkan berdasarkan fakta; (3) sistematis berarti sebuah tulisan disusun secara sistematissehingga tidak menimbulkan keruwetan pembacanya; (4) konseptual berarti tulisan menggunakan kerangka konsep sesuai dengan bidang keilmuan yang berkaitan; (5) objektif berarti sebuah analisis dalam tulisan hasil berpikir objektif dan bukan hasil prasangka subjektif belaka; (6) komprehensif berarti pembahasan dalam tulisan bersifat menyeluruh dan tuntas; (7) logis berarti susunan tulisan dihubungkan secara masuk akal; (8) bebas dan bertanggung jawab adalah sikap akademis dalam menulis karya ilmiah dilandasi kebebasan tanpa ada unsur paksaan dari pihak lain dan bisa mempertanggungjawabkan secara ilmiah.

Selain memiliki kemampuan untuk menyususn karya ilmiah sebagaimana disebutkan di atas, seorang akademisi seharusnya memiliki (1) sikap gigih mengungkapkan kebenaran lewat semangat keilmiahan, (2) objektif dalam memandang sebuah permasalahan terkait dengan bidang keilmuannya, (3) terbuka dengan pelbagai perspektif yang ada, (4) memiliki rasa keinginanyahuan yang tinggi.

B. Tujuan dan Manfaat Karya Tulis Ilmiah

karya tulis ilmiah memiliki tujuan dan manfaa. Adapun tujuan dari karya tulis ilmiah adalah sebagai berikut:

  1. Karya tulis ilmiah disusun untuk menjelaskan suatu hal;
  2. Karya tulis ilmiah disusun untuk memaparkan sanggahan akan suatu hal;
  3. Karya tulis ilmiah disusun untuk membuktikan sebuah hipotesa;
  4. Karya tulis ilmiah disusun untuk memberi saran;
  5. Karya tulis ilmiah disusun untuk memberikan sanggahan atas sebuah gagasan tertentu.

Sedangkan manfaat karya tulis ilmiah adalah sebagai berikut.

  1. Memperluas khazanah ilmu pengetahuan dengan adanya karya tulis ilmiah yang baru;
  2. Memperkaya jumlah bahan pustaka pada bidang ilmu pengetahuan tertentu;
  3. Memberikan sarana penilitian bagi penulisnya untuk menerapkan prosedur ilmiah dan mempraktikan;
  4. Penerapan penulisnya untuk mempraktikan menulis dan berpikir secara ilmiah.

Berdasrkan tujuan dan manfaat penyusunan karya tulis ilmiah tersebut, maka yang penting dari adanya karya tulis ilmiah adalah sumbangannya kepada ilmu pengetahuan. Adanya karya tulis ilmiah yang bermutu akan memberikan sumbangan berarti kepada bidang ilmu pengetahuan tertentu. Tujuan mulia dari ilmu pengetahuan ini adalah menjadikan kehidupan manusia yang lebih baik.

C. Jenis Karya Tulis Ilmiah

1. Makalah

Makalah merupakan jenis karya ilmiah yang menyajikan suatu masalah berdasarkan kenyataan yang ada di lapangan secara empiris-objektif. Sistematika yang digunakan dalam makalah dibuat oleh para mahasiswa untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah tertentu. Sementara di luar perjuliahan, makalah dibuat oleh para mahasiswa untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah tertentu. Sementara di luar perkuliahan, makalah dibuat oleh para pembicara di seminar, simposium, dan lokakarya. Makalah digunakan sebagai materi presentasi untuk memenuhi satu topik pembahasan tertentu dalam kegiatan seminar.

2. Laporan penelitian

Laporan penelitian disusun dalam bentuk karya tulis ilmiah dengan menggunakan prosedur penulisan ilmiah. Laporan penelitian digunakan dalam rangka memenuhi tugas setelah dilakukan penelitian lapangan dan penelitian berdasarkan riset pustaka. Kegiatan penelitian lapangan lazim dilakukan oleh berbagai lembaga penelitian di pemerintahan, baik di pendidikan maupun di kalangan perusahaan swasta. Tujuan dari lapangan  penelitian adalah menyampaikan sebuah kenyataan objektif di bidang tertentu. Dari laporan penelitian akan dilakukan keputusan atau kebijakan dari pengguna sebuah laporan penelitian.

3. Kerta kerja

Kertas kerja merupakan ragam jenis tulisan karya ilmiah. Kerta kerja disusun dalam hubungannya dengan laporan sebuah kegiatan yang telah dilakukan oleh penulisanya. Laporan kerja berkenaan dengan kegiatan kuliah kerja nyata, kerja nyata labolatorium, program pengalaman lapangan (PPL), dan sebagainya.

4. Skripsi

Skripsi ditulis sebagai syarat akhir dari mahasiswa tingkat sarjana. Skripsi merupakan bentuk pertanggungjawaban berupa karya tulis ilmiah sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana. Skripsi merupakan bukti seorang mahasiswa telah memahami teori tertentu.

5. Tesis

Tesis merupakan tulisan karya ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa tingkat magister sebagai syarat untuk meraih gelar master. Karakteristik penulisan tesis adalah (1) fokus kajiannya membahas isu dalam bidang ilmu tertentu, (3) menggunakan data primer sebagai data utama dan dapat ditunjang data sekunder.

6. Disertai

Disertai dalam memiliki derajat keilmiahan yang tinggi dalam dunia tulisan karya ilmiah. Dalam disertai cakupan yang ada luas dan kajiannya cukup mendalam. penulisan disertai merupakan syarat untuk mencapai gelar doktor perguruan tinggi. Dalam disertai memiliki ciri ciri, antara lain (1) adanya temuan atau model baru dalam bidang ilmu tertentu, (2) pengembangan dan teori yang selama ini dianut.

7. Karya tulis ilmiah populer

Karya tulis ilmiah populer berupa opini atau artikel yang dimulai di media massa. Karya tulis ilmiah populer ini menggunakan bahasa yang segar karena berhadapan dengan pembaca yang beragam. Penggunaan bahasa dalam opini atau artikel lebih segar. Namun demikian, opini dan artikel tetap menggunakan kaidah penulisan ilmiah.

8. Buku

Buku teks, buku diktat, dan buku modul masuk dalam ragam karya tulis ilmiah. Buku ini digunakan untuk menunjang kegiatan pendidikan di dalam ruangan atau buku panduan pada sebuah program kegiatan tertentu.

D. Penulisan Karya Tulis Ilmiah

Dalam melakukan penulisan karya tulis ilmiah diperlukan sejumlah langkah. Patut dicatat di awal bahwasanya seorang penulis yang baik adalah seorang peneliti yang baik. Tulisan karya ilmiah yang baik tidak saja dilihat dari susunan tulisannya yang mengesankan sifat ilmiahnya. Lebih dari itu, karya tulis ilmiah yang baik dihasilkan oleh peneliti yang hebat. Seseorang peneliti yang hebat pastinya membekali dirinya dengan pengetahuan yang memadai baik dari wawasan metode, maupun teknik penelitian yang sungguh sungguh ia kuasai. Tanpa itu, sebuah tulisan tidak lebih sekedar dari retorika jauh dari manfaat bagi bidang keilmuannya maupun bai masyarakat secara umum.

1.Penentuan topik

Pada awal penulisan karya tulis ilmiah yang paling penting dimiliki seorang penulis adalah adanya topik yang akan menjadi bahasan. Dengan adanya topik, seorang penulis memiliki pijakan untuk mengerahkan penulisannya secara fokus.

Persoalannya adalah bagaimana dalam menentukan topik. Seorang akademisi atau orang yang menekuni bidang ilmu tertentu akan mengetahui isu isu yang seringkali menjadi bahasan. Dalam bidang kebudayaan isu tersebut misalkan mengenai “budaya global” atau “krisis identitas”, Isu dalam bidang ekonomi, misalnya mengenai “pasar bebas” atau “krisis ekonomi”. Dalam bidang pendidikan, isu berkenaan dengan “kualitas sumber daya manusia”. Dalam setiap bidang keilmuan pasti terdapat isu isu aktual yang menyangkut hubungan dengan masyarakat maupun yang hanya terdapat dalam bidang keilmuan tersebut.

Para ahli atau mahasiswa akan mengetahui isu isu aktual dalam bidang keilmuan mereka masing masing. Adanya isu isu tersebut dapat dijadikan pijakan awal untuk melakukan penyelidikan lebih dalam. Dengan menetapkan topik yang diminati, seorang penulis dapat mengembangkan topik tersebut melalui riset pustaka. Ia dapat membaca buku, majalah, loran, internet atau sumber sumber lain mengenai topik yang telah dipilihnya.

Dari riset pustaka akan diketahui gambarnya topik tersebut. Adanya gambaran sebuah topik merupakan bahan yang berharga untuk menyususn gambaran awal mengenai topik yang akan digarapnya. Pengetahuan awal sebuah topik mengenai apa yang dibahas menentukan pengerjaan tulisan itu. Dengan adanya pengetahuan awal yang jelas tentang sebuah topik, penulis dapat menyusun sebuah latar belakang dari topik yang ia pilih.

2. Perumusan masalah

Adanya pengetahuan awal mengenai topik yang  biasanya ditulis menjadi bagian latar belakang, tulisan dapat dikerucutkan pada perumusan masalah. Perumusan masalah merupakan kunci dari sebuah tulisan karya ilmiah. Perumusan masalah yang telah dibuat akan menentukan bagi penulis dalam pengerjaan tulisan tersebut. Dalam penelitian lapangan, perumusan masalah akan memberi batasan kepada peneliti mengalami apa yang ia cari di lapangan. Sebab di lapangan, terutama bagi penulis/peneliti muda, sering dikacaukan oleh situasi yang dihadapi. Demikian juga dalam riset pustaka, perumusan masalah akan membingbing seorang peneliti mengenai apa yang ia cari di tengah banyaknya sumber.

Dengan perumusan masalah yang jelas dan definitif akan didapat sebuah arah dari tulisan ilmiah yang dikerjakan. Perumusan masalah ini akan menjadi isi dari keseluruhan tulisan. Dari masalah yang telah dirumuskan di awal penulisan, akan menentukan tahap tahap penulisan selanjutnya.

Dengan demikian, pengembangan topik pembahasan di bagian awal penulisan menjadi penting. Hal ini terkait hasil yang akan memengaruhi perumusan masalah yang dibuat pada tahap selanjutnya.

Dalam perumusan masalah idealnya terdapat dua jenis perumusan, yaitu perumusan teoritis dan perumusan operasional (Ninuk Kleden, 2015). Perumusan teoritis didefisinikan dengan mempertentangkan dua atau tiga gejala yang muncul dari topik yang menjadi bahasan. Dua gejala ini misalnya di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, angka kemiskinan masyarakatnya cukup besar padahal di kabupaten ini banyak dibangun pabrik pabrik berskala nasional dan internasional. Tingginya kemiskinan masyarakat dan pesatnya pembangunan pabrik di Karawang meruakan dua gejala yang bertentangan satu sama lain.

Perumusan masalah secara teoritis sebagaimana dicontohkan belum dapat diopersionalkan. Perumusan tersebut memperlihatkan fenomena terkait dengan topik yang akan dikaji. Untuk memberikan arahan yang lebih operasional di lapangan, perlu disusun perumusan masalah yang bersifat operasional. Pengertian opersional di sini adalah perumusannya dapat secara langsung untuk mengetahui kenyataan berdasarkan penelitian lapangan atau penelitian pustaka. Biasanya perumusan operasional dirumuskan dalam bentuk pertanyaan. Contohnya (1) Bagaimana kebijakan pemerintah Kabupaten Karawang menyiapkan sumber daya manusia masyarakat Karawang?; (2) bagaimana kebijakan kebutuhan pekerja perusahaan perusahaan di karawang?; (3) Bagaimana kultur masyarakat Karawang berkaitan dengan pekerjaan?

3. Menyususn Desain Penelitian

Dari perumusan masalah operasional tersebut akan didapat gambaran apa yang akan dilakukan ketika terjun ke lapangan atau riset pustaka untuk memperoleh data. Seorang penulis/peneliti akan dapat mempersiapkan segala sesuatu untuk menentukan apakah penelitiannya tergolong penelitian kualitatif atau kuantitatif. Selanjutnya, data pustaka apa saja yang harus dipersiapkan sebelumnya maupun siapa saja yang akan diwawancara jika pilihannya adalah penelitian kualitatif. Apa saja yang akan ditanyakan? Kapan waktu wawancara dapat dilakukan?

Setelah cukup dengan penyusunan latar belakang masalah dari pengembangan topik dan perumusan masalah, selanjutnya disusun desain penelitian. Desain riset ini merupakan persiapan seorang peneliti sebelum masuk tahap pengumpulan data. Apakah data yang diperolehnya melalui penelitian kualitatif atau kuantitatif? Ketika pilihannya kualitatif, apakah melalui penelitian lapangan atau penelitian pustaka?

Demikian juga ketika penelitian dilakukan dengan cara kuantitatif. Populasi apa saja yang akan ditetapkan di wilayah yang ditetapkan untuk menjawab perumusan masalah yang telah diajukan? Berapa jumlah responden yang ditetapkan untuk mengisi kuisioner? kapan kuesioner dapat disebar kepada responden? dan seterusnya.

Tahapan sebelum melakukan pengumpulan data harus dipersiapkan dengan baik. Penelitian lapangan dengan metode kualitatif maupun kuantitatif memerlukan persiapan sunguh sunguh, sebab suasana di lapangan sering membuat apa yang diperoleh dalam penelitian menjadi kabur. Hal yang sama berlaku dalam penelitian pustaka. Seringkali data pustaka yang berasal dari berita, buku, majalah, rekaman, data dari internet jumlahnya sangat banyak. Padahal yang ingin diperoleh seorang peneliti hanya yang terkait dengan masalah penelitiannya. Untuuk itu, di sinilah pentingnya desain riset yang baik sebelum melakukan kegiatan pengumpulan data.

4. Pengumpulan data

Pengumpulan data dalam penelitian ada dua cara yang ditempuh, yaitu penelitian lapangan dan penelitian pustaka. Kemudian dalam penelitian lapangan ada dua cara yang bisa ditempuh, yaitu penelitian dengan menggunakan teknik wawancara atau teknik penyebaran kuisioner. Penelitian kualitatif seringkali metodenya dengan menggunakan etnografi. Tujuannya agar dalam wawancara yang dilakukan secara terstruktur maupun bebas dapat diperoleh data yang mendalam. Penelitian dengan memakai teknik wawancara dikategorikan ke dalam penelitian model kualitatif.

Lalu penelitian dengan menggunakan model penyebaran kuesioner kepada pupulasi yang telah ditetapkan disebut penelitian dengan model kuantitatif. Dalam menentukan populasi dan penyebarannya harus memenuhi aspek proporsionalitas. Dengan demikian, responden dan jawaban atas kuisioner yang didapat akan mempresentasikan objek penelitiannya.

5. Analisis Data

Setelah kembali dari lapangan atau selesai riset pustaka, langkah selanjutnya adalah analisis data yang diperoleh. Analisis data ini tergantung dari model penelitian yang dilakukan. Dalam penelitian lapangan atau riset pustaka yang perlu dilakukan pertama kali adalah identifikasi data, klasifikasi data, analisis data, dan intersepsi data. Sementara itu, untuk hasil penelitian lapangan dengan pendekatan kuantitatif dilakukan dengan pemrosesan stasitik.

6. Kerangka penulisan karya ilmiah

Pada tahap ini telah diperoleh data penelitian. Langkah selanjutnya adalah menuliskannya dalam bentuk tulisan ilmiah. Dalam penulisan tidak serta merta seorang penulis memaparkan ide sesuka hatinya. Penulisan seharusnya menunjukan bahwa isi laporan merupakan hasil penelitian yang serius dan bermanfaat secara khusus bagi kalangan disiplin ilmunya dan kepada masyarakat pembaca pada umumnya. Kemudian secara wujud menyususn sebuah tulisan terstruktur.

Untuk itu, perlu disusun sebuah kerangka tulisan ilmiah. Kerangka ini membantu penulis menjabarkan hasil temuannya kepada sidang pembaca. Berikut kerangka karangan yang bisa dibuat untuk menyususn tulisan karya ilmiah (Endraswara, 2015):

1. Judul

Judul sebaiknya terdiri dari beberapa kata yang mengambarkan apa yang sedang diteliti serta penekanan yang diberikan dalam penelitian

2. Pendahuluan

Membahas topik yang hendak diulas dalam tulisan tersebut. Sampaikan ruang lingkup dari topik yang menjadi bahan kajian. Beri gambaran menganai apa yang akan disampaikan di akhir tulisan dari hasil penelitian.

3. Bahan dan metode

Beri penjelasan mengenai metode dalam memperoleh data serta sarana dalam memperoleh data.

4. Hasil penelitian

Uraian mengenai hasil peneltian dalam bahasa tulis yang jelas. Uraian bisa dibantu dengan menggunakan tabel dengan grafik sehingga memudahkan dalam pembacaan.

5. Pembahasan hasil penelitian

Dalam pembahasan hasil penelitian dapat diungkapkan bukti bukti yang mendukung data berkaitan dengan kesimpulan utama, perbandingan dengan temuan dari penulis/peneliti lain, dan adanya kaidah kaidah dasar yang diperlukan oleh hasil penelitian.

6. Sistematika karya tulis ilmiah

Pada tahapan ini penulis menjabarkan dalam bentuk tulisan yang terstruktur.Sistematika membantu penulis/peneliti menuangkan hasil temuannya ke dalam wujud tulisan yang ilmiah. Secara umum dalam karya tulis ilmiah dibagi menjadi tiga bagian sebagai berikut:

1) Bagian pendahuluan

Dalam bagian pendahuluan ini berisi bagian awal dari sebuah tulisan ilmiah. bagian ini berisi judul, halaman judul, lembar pengesahan, abstrak, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar foto, daftar gambar, daftar bagan, daftar lambang, daftar singkatan. Dalam penulisan yang lain tidak harus selengkap itu, tetapi disesuaikan dengan data yang ada.

2) Bagian isi

Bagian ini terdiri atas pendahuluan, pembahasan, simpulan dan saran. Bagian isi merupakan bagian pokok dari sebuah tulisan sebagai hasil dari sebuah penelitian.

3) Bagian penutup

Bagian penutup terdiri dari daftar pustaka, pelbagai lampiran yang ada, dari riwayat hidup penulis.

7. Ciri bahasa untuk Karya Tulis Ilmiah

Bahasa karya tulis ilmiah memiliki ciri ciri tertentu dengan bahasa bukan karya tulis ilmiah. Ada dua ciri bahasa karya tulis ilmiah, yaitu ciri ciriumum dan ciri ciri khusus. Ciri umum bahasa tulis karya ilmiah adalah sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku. Ciri khusus karya ilmiah, antara lain cendekia, lugas dan logis, jelas, ringkas dan padat, formal dan objektif, gagasan sebagai pangkai tolak, penggunaan istilah teknis, dan konsisten.

Berikut ciri ciri khusus bahasa tulis karya ilmiah:

1. Cendekia

Maksud dari bahasa cendekia adalah bahasa yang digunakan dalam penulisan karya tulis ilmiah mampu mengungkapkan hasil berpikir logis secara tepat.

2. Lugas dan logis

Ciri bahasa lugas dalam tulisan karya ilmih adalah bahasa yang digunakan bermakna harafiah dan tidak bermakna ganda. Sementara, logis adalah bahasa yang digunakan sesua dengan logika dan bisa diterima oleh akal sehat.

3. Jelas

Ciri bahasa jelas adalah bahasa yang digunakan dalam penulisan memiliki struktur kalimat dan makna yang jelas.

4. Ringkas dan padat

Ringkas yang dimaksud adalah bahasa yang digunakan harus singkat, tidak menggunakan bahasa yang bertele tele. Sementara padat berarti penggunaan bahasnya tidak tercampur unsur unsur yang tidak perlu. Jadi, ringkas dan padat dalam penggunaan bahasa karya tulis ilmiah adalah penggunaan kalimat yang ringkas untuk hasil pola pikir yang padat.

5. Formal dan objektif

Bahasa yang formal dalampenulisan karya tulis ilmiah adalah bahasa formal atau resmi pada struktur bahasa yang mencakup kesuluruhan tataran kebahasaan. Dengan bahasa formal ini tampak karakter keterbukaan dalam mengungkapkan hasil pikiran. Pengunaan bahasa formal ini secara langsung akan mengungkapkan karakter objektif dari tulisan yang dihasilkan.

6 . Penggunaan istilah teknis

Dalam penulisan karya ilmiah menggunakan istilah istilah teknis terkait dengan bidang tertentu. Istilah istilah ini bersifat operasional dalam tulisan ilmiah tersebut. Istilah teknis ini meliputi penulisan angka, lambang, dan istilah konseptual.

7. Konsisten

Dalam penggunaan konsep atau istilah istilah teknis harus konsisten dalam keseluruhan tulisan. Adnya konsistensi ini menandakan hubungan kelogisan yang kuat yang dibangun dalam tulisan tersebut. Adanya kelogisan menandakan adanya hubungan kausialitas yang menjadi ciri pokok dari sebuah tulisan ilmiah.

 

Add a Comment