Bahasa Indonesa yang Baik dan Benar

Slogan “Gunakan bahasa indonesia yang baik dan benar” seiring kita dengar dari lembaga bahasa pemerintah melalui iklan di media. Di tengah penggunaan bahasa indonesia yang cendenrung abai slogan tersebut akan dibahas berikut ini. Bila diamati penggunaan bahasa indonesia di televisi, berita daring, dan kemampuan bahasa di kalangan anak muda pada jaman sekarang, ada yang perlu dikhawatirkan dalam hal berbahasa indonesia. Kemampuan tulisan diberita daring tidak lagi menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar standar. Bahasa yang digunakan menunjukan penulisannya tidak menguasai bahasa indonesia tulis secara benar. Demikian juga penggunaan bahasa di kalangan anak muda dan para tokoh televisi, seringkali dalam perbincangan terselip, bahkan muncul dalam kalimat pendek menggunakan bahasa asing.

Bahasa Indonesa yang Baik dan Benar

Bahasa Indonesa yang Baik dan Benar

Perihal bahasa indonesia yang baik dan benar menyangkut dua hal, yaitu secara baik dan secara benar. Dalam hal bahasa indonesia yang baik menyangkut segi waktu. Pertanyaan pertama dari frase “berbahasa indonesia yang baik” pertama tama menyangkut soal konteks sebuah bahasa digunakan. Berkaitan dengan konteks situasi dan kondisi penggunaan bahasa, ada empat hal yang seharusnya dipertimbangkan, yaitu (1) tempat, (2) waktu, (3) pelaku bahasa, dan (4) tujuan.

Penggunaan bahasa indonesia sesuai dengan konteks tempat dapat kita amati pada saat percakapan antara tukang ojek dengan penguna jasa ojek di pinggir jalan. Antara kedua orang tersebut akan terjadi percakapan cenderung santai. Penggunaan kata pendek pendek menyangkut tujuan dan harga. Tidak ada kalimat panjang panjang seperti pada pidato resmi pejabat pemerintahan. Dalam konteks yang berkenaan dengan tempat antara tukang ojek dan pengguna jasanya akan berjalan dengan cepat. Hal tersebut disebabkan mendesaknya si pengguna jasa ojek agar lekas sampai di tempat tujuan. Pengguna jasa ojek biasanya didorong oleh situasi terdesak lantaran jalan macet namun diharuskan lekas sampai tujuan.

Kemudian penggunaan bahasa indonesia sesuai dengan konteks waktu. Pada saat dilaksanakan rapat setiap peserta akan menggunakan bahasa resmi. Dalam menyampaikan aspirasinya, masing masing peserta rapat menggunakan bahasa resmi. Kata kata yang digunakan sudah diperhitungkan terlebih dulu sehingga apa yang disampaikan jelas bagi semua peserta. Susunan kalimatnya tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek. Namun begitu jam istirahat tiba dan mereka makan bersama, bahasa yang digunakan berbeda dengan pada saat berlangsung rapat. Kata kata spontan keluar dan kalimatnya menjadi pendek pendek. Suasananya santai. Tidak berlaku lagi formalitas sebagaimana pada waktu diselenggarakan rapat. Dengan demikian, konteks waktu menentukan bahasa apa yang akan digunakan oleh para peserta rapat.

Konteks pelaku bahasa dalam penggunaan bahasa terkait dengan siapa yang sedang diajak bercakap. ketika bercakap kepada lawan bicara dari kalangan status sosial tinggi, susunan kalimatnya akan berbeda dengan kalangan sosial yang lebih rendah. Susunan kalimatnya dan pilihan kata yang tergantung pada konteks siapa lawan bicaranya. Dalam bahasa indonesia tidak mengenal tingkatan, namun berhubungan dengan lawan bicarra akan memengaruhi susunan kalimat dan pilihan kata. Dengan lawan bicara yang lebih atas akan tampak lebih formal dibandingkan ketika lawan bicara berasal dari kalangan tingkatan sosial bawah.

Berkenaan dengan penggunaan bahasa yang baik terkait dengan konteks tujuan. Tujuan dalam komunikasi menentukan bahasa yang digunakan meskipun seseorang memiliki hubungan sangat akrab dalam kehidupan keseharian, akan berbeda apabila menyangkut topik kontrak bisnis. Mereka akan meninggalkan bahasa yang santai dan berubah menggunakan bahasa yang cenderung formal. Susunan kalimatnya lebih spontanitas, sebab kata kata yang digunakan telah dipikirkan secara matang sebelum disampaikan kepada lawan bicaranya.

Selanjutnya, penggunaan bahasa yang benar berkaitan dengan pemakaian tata bahasa yang benar. Penggunaan bahasa yang benar lebih sering digunakan pada penggunaan bahasa tulisan. Dalam bahasa indonesia, kaidah kaidah sebuah bahasa disebut benar meliputi (1) ejaan, (2) fonologi, (3) morfologi, (4) sintaksis, (5) semantik, (6) paragraf, (7) wacana, dan (8) kelogisan.

Ejaan berkaitan dengan penulisan yang benar. Ejaan berkenaan dengan penulisan huruf, penulisan kata, penulisan unsur serapan, dan penulisan tanda baca. Contohnya, penulisan kata positif dan bukan positip atau positive. Aturan ejaan dalam bahasa indonesia pemakaian huruf f dan v yang diucapkan atau pelafalannya sama, namun perlu dicermati dengan berpedoman pada aturan mengenai kata serapan.

Fronologi merupakan kaidah bahasa mengenai tata bunyi. Penggunaan kaidah secara benar menentukan arti sebuah kata dan memberi dampak kepada maksud sebuah kalimat. Contoh: saya bisa mengubah barang bekas plastik menjadi mainan. Penggunaan kata mengubah sering diperlukan dengan merubah. Padahal menugubah dan merubah memiliki perbedaan besar. Kata mengubah bentukan dari awalan me– dan kata ubah. Sementara merubah bentukan dari kata awalan me- dan kata rubah (rubah= hewan)

Morfologi berkenaan dengan aturan pembentukan kalimat. Pembentukan kalimat yang benar akan menentukan makna yang dimaksudkan oleh penuturnya. Contoh, kata sekadar bukan sekedarSekedar berasal dari pembentukan awalan se- dan kata kadar. Makna dari kata sekadar dalam kalimat sekadar bertanya berarti hanya untuk.

Sintaksis berkenaan dengan aturan penyusunan kalimat. Aturan kalimat yang benar adalah kalimat yang baku dan efektif. Contoh, Dengan ini kami sebagai penulis ingin mengucapkan terima kasih. kalimat tersebut tidak tepat. Adapun yang tepat, Dengan ini saya sebagai penulis ingin mengucapkan terima kasih.

Pargraf merupakan kaidah yang perlu diperhatikan dalam penulisan. Paragraf tidak sekadar berawal dari kalimat dengan lima spasi atau lebih. Inti dari paragraf adalah mengandung pokok pikiran yang berkaitan dengan tema dari sebuah tulisan. Adanya spasi yang menjorok ke dalam merupakan tanda teknis untuk memudahkan pembaca. Tanda teknis tersebut menginformasikan kepada pembaca bahwa setiap paragraf mengandung poko pikiran yang berbeda.

Kemudian unsur yang penting dalam menentukan sebuah bahasa yang benar adalah kelogisan. Dalam sebuah kalimat sekaligus semua unsur telah ada namun bila tidak terdaoat kelogisan mengakibatkan sebuah bahasa tidak benar. Contoh: koruptor itu berhasil ditangkap KPK, kalimat tersebut tidak logis. Kalimat yang benar: KPK berhasil menangkap koruptor

Dengan demikian, bahasa indonesia yang baik dan benar sesuai dengan situasi dan kondisi serta dengan kaidah bahasa yang berlaku. Sebuah penggunaan bahasa indonesia yang baik apabila menimbang aspek diluar kebahasan itu sendiri, yaitu aspek situasi dan kondisi. Sementara itu, bahasa indonesia yang benar apabila sesuai dengan kaidah yang berlaku dalam penulisan bahasa indonesia. Kesimpulannya, bahasa indonesia dikatakan baik dan benar apabila sesuai dengan aspek situasi dan kondisi serta aspek aturan yang berlaku dalam bahasa indonesia.

Add a Comment